Selasa, 16 Oktober 2012

Teknik-teknik Bimbingan dan Konseling


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Bimbingan adalah suatu proses membantu individu melalui usaha sendiri untuk menentukan dan mengembangkan kemampuannya agar memperoleh kebahagiaan pribadi dan kemanfaatan sosial.
Konseling merupakan salah satu teknik dalam pelayanan bimbingan dimana proses pemberian bantuan itu berlangsung melalui wawancara dalam serangkaian pertemuan langsung dan tatap muka antara guru/konselor dengan klien itu mampu memperoleh pemahaman yang lebih baik terhadap dirinya, mampu memecahkan masalah yang dihadapinya dan mampu mengarahakn dirinya untuk mengembangkan potensi yang dimiliki ke arah perkembangan yang optimal, sehingga ia dapat mencapai kebahagiaan pribadi dan kemanfaatan sosial.

Pada setiap sekolah peran seorang pendidik bimbingan dan konseling sangat penting untuk semua siswa, karena semua siswa perlu bimbingan dalam menghadapi perkembangan dan masalah yang dialaminya.
Oleh karena itu penyusun mencoba membuat tulisan sederhana untuk membahas ilmu yang berhubungan dengan teknik-teknik bimbingan dan konseling.
         B.     Rumusan Masalah
1.      Apa pengertian teknik-Teknik Bimbingan dan Konseling?
2.      Apa jenis-jenis masalah individu?
3.      Apa proses dan langkah-langkah pelaksanaan studi kasus?
4.      Bagaimana metode mendapatkan data untuk bimbingan dan konseling?
5.      Bagaimana langkah-langkah bimbingan dan konseling?

6.      Bagaimana teknik-teknik bimbingan dan konseling?
7.      Apa kode etik pada bimbingan dan konseling?

          C.    Tujuan
1.      Dapat mengetahui pengertian teknik-Teknik Bimbingan dan Konseling.
2.      Dapat mengetahui jenis-jenis masalah individu.
3.      Dapat mengetahui proses dan langkah-langkah pelaksanaan studi kasus.
4.      Dapat mengetahui metode mendapatkan data untuk bimbingan dan konseling.
5.      Dapat mengetahui langkah-langkah bimbingan dan konseling.
6.      Dapat mengetahui teknik-teknik bimbingan dan konseling.
7.      Dapat mengetahui kode etik pada bimbingan dan konseling.

D.    Metode Penulisan
Dalam penulisan makalah ini penyusun menggunakan metode library research (metode kepustakaan), yaitu dengan jalan mengumpulkan dan mempelajari buku-buku dengan tujuan untuk mengambil dan mendapatkan bahan-bahan yang ada hubungannya dengan teknik-teknik bimbingan dan konseling.










BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Teknik-Teknik Bimbingan dan Konseling
Teknik adalah cara, langkah atau metode yang dilakukan untuk mencapai suatu tujuan. Bimbingan ialah mengarahkan, memandu, mengelola, dan menyetir. Bimbingan juga dapat diartikan sebagai bantuan atau pertolongan.
Konseling adalah hubungan tatap muka yang bersifat rahasia, penuh dengan sikap penerimaan dan pemberian kesempatan dari konselor kepada klien. Pendapat lain mengatakan bahwa konseling adalah upaya membantu individu melalui proses interaksi yang bersifat pribadi antara konselor dan konseli agar konseli mampu memahami diri dan lingkungannya, mampu membuat keputusan dan menentukan tujuan berdasarkan nilai yang diyakininya sehingga konseli merasa bahagia dan efektif prilakunya.
Jadi, teknik bimbingan dan konseling adalah cara atau metode yang dilakukan untuk membantu, mengarahkan atau memandu seseorang atau sekelompok orang agar menyadari dan mengembangkan potensi-potensi dirinya, serta mampu mengambil sebuah keputusan dan menentukan tujuan hidupnya dengan cara berinteraksi atau bertatap muka.

B. Jenis-Jenis Masalah Individu
Masalah-masalah individu yang timbul dalam lingkup sekolah dapat diklasifikasikan dalam 3 jenis, sebagaimana dikemukakan oleh Djumhur dan Moh. Surya sebagai berikut :
1.      Masalah Pendidikan
Individu merasakan kesulitan dalam menghadapi kegiatan belajar, misalnya sulit untuk memahami mata pelajaran yang didapatkan, cara membagi waktu belajar, cara belajar, mengerjakan tugas, lingkungan sekolah, guru-guru dan tata tertib.


2.      Masalah Pribadi dan Sosial
Masalah pribadi dalam lingkup sekolah umumnya bercikal bakal dalam pribadi individu yang berhadapan dengan lingkungan sekitarnya. Adapun masalah sosial yang dihadapi oleh siswa dalam lingkup sekolah yang bersangkutan dengan hubungan antar individu atau hubungan antara individu dan lingkungan sosialnya, misalnya kesulitan mencari teman, merasa terasing dengan pekerjaan kelompok, dll.
3.      Masalah Pekerjaan (Karir)
            Masalah ini berhubungan dengan memilih pekerjaan. Misalnya dalam memilih jenis-jenis pekerjaan yang cocok dengan dirinya, memilih latihan tertentu untuk suatu pekerjaan, mendapatkan informasi tentang jenis pekerjaan dan kesulitan untuk menyesuaikan diri dalam lingkungan pekerjaan.

C. Proses dan Langkah-langkah Pelaksanaan Studi Kasus
Langkah-langkah pelaksanaan studi kasus, menurut Prayitno (1999:77, dalam: Anshari, 2008) yang harus diperhatikan terlebih dahulu oleh konselor dalam menangani sebuah kasus, yaitu :
1.      Pengenalan awal tentang kasus (dimulai sejak awal kasus itu dihadapkan).
2.      Pengembangan ide-ide tentang rincian masalah yang terkandung dalam proses itu.
3.      Penjelajahan lebih lanjut tetang seluk beluk kasus tersebut.
4.      Pelasanaan upaya-upaya kasus untuk mengatasi atau memecahkan sumber pokok permasalahan.

D. Metode Mendapatkan Data Untuk Bimbingan dan Konseling
            Menurut H.M. Umar dan Sartono, pengumpulan data ini sangat penting dalam penyelidikan-penyelidikan pada umumnya maupun bimbingan dan konseling. Hal ini karena konseling baru dapat diberikan dengan baik kalau data sekitar individu yang akan dibimbing telah diketahui.

1.      Observasi
Observasi yaitu suatu cara untuk mengumpulkan data yang diinginkan dengan mengandalkan pengamatan secara langsung. Dalam hal ini, pelaksanaan penyelidikan dilakukan dengan panca indera secara aktif terutama pengelihatan dan pendengaran.
Ditinjau dari peranan obsever, observasi dibagi menjadi 3 macam, yaitu:
a.       Observasi yang berpartispasi
Dalam observasi ini, observer (pembimbing) turut mengambil bagian dalam perihal kehidupan atau situasi dari orang-orang yang di observasi. Pada umumnya, bentuk ini dipergunakan untuk mengadakan penyelidikan yang bersifat eksploratif yang biasanya untuk menyelidiki satuan-satuan yang besar.
b.      Observasi non partisipasi
Pada teknik ini, observer tidak mengambil bagian secara langsung dalam situasi kehidupan orang diobservasi. Jadi, hanya sebagai penonton saja.
c.       Quasi Partisipasi
Dalam bentuk ini, observer seolah-olah turut berpartisipasi. Jadi, hanya berpura-pura turut mengambil bagian dalam situasi kehidupan orang yang diobservasi.
Ditinjau dari tujuannya, observasi dibagi menjadi 2 macam, yaitu :
a.       Observasi Sistematis
Dilaksanakan dengan menggunakan rencana kerangka terlebih dahulu. Jadi, lebih sistematis dan hal-hal apa saja yang diobservasi, telah dibuat kategoru-kategori tertentu.
b.      Observasi non-sistematis
Observasi ini direncanakan tetapi tidak disistematiskan secara jelas.
Ditinjau dari segi situasinya,observasi dibagi menjadi 3 macam, yaitu :
a.       Free Situation, yaitu observasi yang dijalankan dalam situasi bebas. Karena itu, situasinya belum merupakan situasi terkontrol.
b.      Manipulation Situation, yaitu observasi yang situasinya selalu terkontrol sehingga situasi yang dikehendaki dapat tercapai.
c.       Partially Controlled Situation, yaitu campuran dari kedua observasi sehingga sebagian situasinya sengaja ditimbulkan.
Dalam observasi perlu dilakukan pencatatan observasi, fakta dan interpretasi serta penggunaan bebeberapa alat observasi, seperti:
a.       Anecdotal records, yaitu daftar riwayat kelakuan setiap siswa sehingga membantu pembimbing dalam mengevaluasi siswa dengan melihat records ini.
b.      Catatan berkala, yaitu catatan perilaku siswa di waktu tertentu.
c.       Check List, yaitu suatu daftar yang mengandung atau mencakup faktor-faktor yang diselidiki.
d.      Rating Scale, ditunjukkan untuk memperoleh tingkatan-tingkatan sifat yang ada pada klien.
e.       Mechanical device, menggunakan alat-alat yang lebih sempurna seperti foto, slide, dsb.
2.      Questionnaire
Dipandang dari bentuknya, ada 3 macam bentuk, yaitu:
a.       Pertanyaan tertutup, yaitu pertanyaan-pertanyaan yang jawabannya sudah disediakan sehingga orang yang menjadi sasaran tinggal memilih jawabannya.
b.      Pertanyaan Terbuka, yaitu seseorang diberi kesempatan yang seluas-luasnya untuk memberikan jawaban terhadap questionnaire itu.
c.       Pertanyaan terbuka dan tertutup, yaitu campuran dari kedua pertanyaan tersebut di atas.
Dipandang dari caranya, dibedakan atas :
a.       Langsung, yaitu langsung diberikan kepada sasarannya dan endapatkan jawaban dari tangan pertama.
b.      Tidak langsung, yaitu questionnaire yang di dalam mendapatkan jawaban membutuhkan perantara.

3.      Interview (wawancara)
Yaitu suatu metode untuk mendapatkan data dengan mengadakan face to face relation.
Macam-macam wawancara, di antaranya :
a.       Ditinjau dari tujuannya, wawancara dibedakan menjadi :
1)      The Employment Interview, yaitu wawancara yang ditujukkan untuk mendapatkan gambaran sampai dimana sifat-sifat yang dimiliki seseorang terhadap kriteria yang diperlukan.
2)      Informational Interview, yaitu wawancara yang ditujukkan untuk mendapat informasi yang dibutuhkan
3)      Administrasi Interview, yaitu wawancara yang dijalankan untuk keperluan administrasi
4)      Konseling Interview, yaitu wawancara yang dijalankan untuk keprluan konseling
b.      Ditinjau dari jumlah orang yang diwawancara, dibedakan menjadi :
1)      Wawancara perorangan
2)      Wawancara kelompok
c.       Dintinjau dari peranan yang dimainkan, dibedakan menjadi :
1)      The non-directive, yaitu yang kurang terpimpin dan kurang mendasar atas pedoman tertentu
2)      The focused interview, yaitu yang ditujukkan kepada orang tertentu yang mempunyai hubungan objek yang diselidiki
3)      The repeated interview, yaitu wawancara yang berulang.
4.      Sosiometri
Menunjukkan kepada kita tentang ukuran berteman. Metode ini bertujuan untuk menyelidiki hubungan sosial klien dalam lingkungannya.
5.      Tes
Yaitu suatu metode untuk mengadakan penyelidikan dengan menggunakan soal-soal yang telah dipilih dengan seksama.
Perlu diketahui bahwa baik tidaknya suatu tes bergantung pada validitas dan realibitas tes tersebut. Validitas yaitu ukuran sampai dimana tes itu mengukur sesuatu yang ingin diukur. Adapun realiabilitas ialah keteraturan dan kepastian dari tes itu.
Macam-macam tes, di antaranya:
a.       Ditinjau dari jumlah orang yang di tes, dibedakan menjadi :
1)      Tes individual
2)      Tes Kelompok
b.      Ditinjau dari kemampuan jiwa yang ingin diselidiki, dibedakan menjadi :
1)      Tes pengamatan
2)      Tes perhatian
3)      Tes intelegensi
c.       Ditinjau dari cara pengetesan, dibedakan menjadi :
1) Tes verbal (tes bahasa)
2) Tes peraga (performance)
6. Case Studi ( Studi kasus )
Yaitu metode suatu penyeidikan untuk mempelajari kejadian mengenai perseorangan. Macam-macam studi kasus, di antaranya :
a.       Data identifikasi
b.      Tanda-tanda atau gejala-gejala yang nampak
c.       Interpretasi dari data
d.      Langkah-langkah yang diambil dalam konseling
              
E. Langkah-langkah Bimbingan dan Konseling
1. Identifikasi anak
            Dimaksudkan untuk mengenal anak beserta gejala-gejala yang tampak. Pembimbing mencatat anak-anak yang perlu mendapat bimbingan dan memilih anak yang perlu mendapat bimbingan lebih dahulu.
2. langlah diagnosis
Yaitu langkah untuk menetapkan masalah yang dihadapi anak beserta latarbelakangnya. Pembimbing mengumpulkan data dengan mengadakan studi terhadap anak, menggunakan berbagai studi terhadap anak, menggunakan berbagai teknik pengumpulan data.
3.      Langkah prognosis
Yaitu langkah untuk menetapkan jenis bantuan yang akan dilaksanakan untuk bimbingan anak. Didasarkan atas kesimpulan langkah diagnosis.
4.      Langkah Terapi
Yaitu langkah pelaksanaan bantuan atau bimbingan. Langkah ini merupakan pelaksanaan yang ditetapkan dalam langkah prognosis. Prosesnya continue dan sistematis.
5.      Langkah evaluasi dan follow up
Dimaksudkan untuk menilai atau mengetahui sejauh manakah terapi yang telah dilakukan dan telah mencapai hasilnya. Dalam langkah follow up dilihat perkembangan selanjutnya dalam jangka waktu yang lebih jauh.

F. Teknik-Teknik Bimbingan dan Konseling
Pada umumnya teknik-teknik yang dipergunakan dalam bimbingan mengambil dua pendekatan, yaitu pendekatan secara kelompok (group guidance) dan pendekatan secara individual (Individual Guidance Counseling).
1. Bimbingan Kelompok (Group Guidance)
Tehnik ini dipergunakan dalam membantu murid atau sekelompok murid memecahkan masalah-masalah dengan melalui kegiatan kelompok, yaitu yang dirasakan bersama oleh kelompok atau bersifat individual yaitu dirasakan oleh individu sebagai anggota kelompok.
Teknik ini membawa keuntungan pada diri murid, di antaranya;
·         Menghemat waktu dan tenaga.
·         Menciptakan kesempatan bagi semua siswa untuk berinteraksi dengan konselor, yang memungkinkan siswa lebih berkeinginan membicarakan perencaan masa depan atau masalah pribadi-sosial.
·         Menyadarkan siswa bahwa kenyataan yang sama juga dihadapi oleh teman-temannya, sehingga mereka terdorong untuk berusaha mengahadapi kenyataan itu bersama-sama dan saling mendiskusikannya.
Ada beberapa teknik dalam bimbingan kelompok, seperti:
a.       Home room programe
Yaitu suatu program kegiatan yang dilakukan dengan tujuan agar guru dapat mengenal murid-muridnya lebih baik, sehingga dapat membantunya secara efisien. Kegiatan ini dilakukan dalam kelas dalam bentuk pertemuan antara guru dengan murid diluar jam-jam pelajaran untuk membicarakan beberapa hal yang dianggap perlu.
Dalam program home room ini hendaknya diciptakan suatu situasi yang bebas dan menyenangkan, sehingga murid-murid dapat mengutarakan perasaannya seperti dirumah.
Dalam kesempatan ini diadakan tanya jawab, menampung pendapat, merencanakan suatu kegiatan, dan sebagainya.

b.      Karyawisata/ field trip
Kegiatan rekreasi yang dikemas denga metode mengajar untuk bimbingan kelompok dengan tujuan siswa dapat memperoleh penyesuaian dalam kelompok untuk dapat kerjasama dan penuh tanggungjawab.

c.          Diskusi kelompok
Diskusi kelompok merupakan suatu cara dimana murid-murid akan mendapat kesempatan untuk memecahkan masalah bersama-sama. Setiap murid dapat menyumbangkan pikiran masing-masing dalam memecahkan suatu masalah. Dalam diskusi itu dapat tertanam pula rasa tanggungjawab dan harga diri.
Masalah yang mungkin dapat diduskusikan antara lain:
1)       Pembagian kerja dalam suatu kegiatan kelompok,
2)      Perencanaan suatu kegiatan,
3)      Masalah-masalah pekerjaan,
4)      Masalah belajar,
5)      Masalah penggunaan waktu senggang,
6)      Masalah persahabatan, keluarga dsb.

d.      Kegiatan kelompok
Kegiatan kelompok merupakan tehnik yang baik dalam bimbingan, karena kelompok memberikan kesempatan kepada individu untuk berpatisipasi dengan sebaik-baiknya. Banyak kegiatan tertentu yang lebih berhasil jika dilakukan dalam kelompok. Untuk mengembangkan bakat-bakat dan menyalurkan dorongan-dorongan. Juga dapat menembangkan tanggungjawab. Teknik sosiometri dapat banyak menolong dalam pembentukan kelompok.

e. Organisasi murid
Keorganisasian baik dalam lingkungan pendidikan maupun dilingkungan masyarakat. Melalui organisasi ini banyak masalah individual maupun kelompok dapat diselesaikan. Dalam organisasi murid mendapat kesempatan untuk belajar mengenal berbagai aspek kehidupan sosial. Mengaktipkan murid dalam mengembangkan bakat kepemimpinan disamping memupuk rasa tanggungjawab dan harga diri.

f. Sosiodrama
Sosiodrama dipergunakan sebagai suatu teknik didalam memecahkan masalah-masalah sosial dengan melalui kegiatan bermain peranan. Di dalam sosiodrama ini individu akan memerankan suatu peranan tertentu dari suatu masalah sosial.

g. Psikodrama
Psikodrama adalah teknik untuk memecahkan masalah-masalah psikis yang dialami oleh individu. Dengan memerankan suatu peranan tertentu, konflik atau ketegangan yang ada dalam dirinya dapat dikurangi atau dihindari. Kepada sekelompok murid dikemukakan suatu cerita yang didalamnya tergambarkan adanya ketegangan psikis yang dialami individu.

h. Remedial teaching
Bentuk penambahan pelajaran, pengulangan kembali, latihan-latihan, penekanan aspek-aspek tertentu. Hal ini tergantung dari jenis dan tingkat kesulitan belajar yang dialami siswa.

2. Individual Guidance Counseling (Bimbingan Konseling Individu)
Bimbingan konseling individu yaitu bimbingan konseling yang memungkinkan klien mendapat layanan langsung tatap muka dalam rangka pembahasan dan pengentasan permasalahan yang sifatnya pribadi yang dideritanya.
Dalam konseling ini hendaknya konselor bersikap penuh simpati dan empati. Simpati artinya menunjukkan adanya sikap turut merasakan apa yang sedang dirasakan oleh klien. Dan empati artinya berusaha menempatkan diri dalam situasi diri klien dengan segala masalah-masalah yang dihadapinya. Dengan sikap ini klien akan memberikan kepercayaan sepenuhnya kepada konselor. Dan ini sangat membantu keberhasilan konseling.
Masalah-masalah yang mungkin dapat di diskusikan:
a. Masalah-maslah yang sifatnya pribadi,
b. Dilakukan dengan face to face relationship,
c. Metode wawancara antara konselor dan kasus,
d. Konselor harus bersikap penuh simpati dan empati.

G. Kode Etik Pada Bimbingan dan Konseling
Kode etik yaitu ketentuan atau peraturan yang harus ditaati oleh siapa saja yang berkecimpung dalam bidang bimbingan dan penyuluhan demi untuk kebaikan. Dengan adanya kode etik dalam bimbingan dan penyuluhan dimaksudkan agar bimbingan dan penyuluhan tetap dalam keadaan baik dan justru diharapkan semakin baik. Kode etik ini mengandung ketentuan-ketentuan yang tidak boleh dilanggar atau diabaikan tanpa membawa akibat yang tidak menyenangkan.
Dibawah ini ada beberapa kode etik dalam bimbingan dan konseling:
1.      Pembimbing atau pejabat lain yang memegang jabatan dalam bidang bimbingan dan konseling harus memegang teguh prinsip-prinsip bimbingan dan penyuluhan.
2.      Pembimbing harus berusaha semaksimal mungkin untuk mencapai hasil sebaik-baiknya, dengan membatasi diri pada keahliannya atau wewenangnya. Karena itu pembimbing jangan sampai mencampuri wewenang serta tanggungjawabnya.
3.      Oleh karena pekerjaan pembimbing langsung dengan kehidupan pribadi orang, maka seorang pembimbing harus:
a. Dapat memegang atau menyimpan rahasia klien dengan sebaik-baiknya,
b. Menunjukkan sikap hormat kepada klien, dan
c. Menghargai sama terhadap bermacam-macam klien.
4.   Pembimbing tidak diperkenankan:
a.  menggunakan tenaga-tenaga ahli yang tidak terdidik dan terlatih,
b.  menggunakan alat-alat yang kurang dapat dipertanggungjawabkan,
c. mengambil tindakan-tindakan yang mungkin menimbulkan hal-hal yang tidak baik bagi klien, dan
d. mengalihkan klien kepada konselor lain, tanpa persetujuan klien.
5.  Meminta bantuan kepada ahli dalam bidang lain diluar kemampuan atau diluar keahliannya.
6. Pembimbing haruslah menyadari akan tanggungjawabnya yang berat yang memerlukan pengabdian sepenuhnya.






BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Dari beberapa penjelasan di atas dapatlah diketahui bahwa di dalam melaksanakan proses bimbingan dan konseling seorang konselor memiliki tanggung jawab yang besar. Untuk dapat menyelesaikan permasalahan yang di alami oleh klien seorang konselor harus memiliki teknik-teknik yang digunakan mulai sejak awal pertemuan hingga akhir penyelesaian masalah.
Dapat diketahui bahwa di dalam proses penyelesaian permasalahan yang dialami klien, memiliki banyak sekali teknik-teknik yang dapat digunakan, misalnya Bimbingan Kelompok (Group Guidance) dan Individual Guidance Counseling (Bimbingan Konseling Individu) sehingga banyak alternatif-alternatif ketika gagal di dalam penggunaan satu teknik, bisa diganti dengan penggunaan teknik yang lain.

B.     Kritik dan Saran
Kami menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan dan masih banyak kekeliruan didalamnya serta tidak terstrukturnya pola pembahasan yang kami paparkan. Satu hal yang kami pahami bahwa tiada manusia yang sempurna tanpa kesalahan dengan segala yang dimilikinya. Oleh karena itu demi kesempurnaan isi makalah ini, dengan segala kerendahan hati kami memerima saran dan kritikan yang sifatnya membangun, berpijak dari itu makalah yang sederhana ini dapat menambah wawasan keilmuan terutama dalam masalah bimbingan dan konseling.


Daftar Pustaka


Anas Salahudin. 2010. Bimbingan dan Konseling. Bandung: CV. Pustaka Setia
H.M. Arifin. 2003. Teori-Teori Konseling Agama dan Umum. Jakarta. PT Golden Terayon Press.
Sofyan S. Willis. 2004. Konseling Individual Teori dan Praktek. Bandung: Alfabeta


Tidak ada komentar:

Posting Komentar